Karakter Bangsaku dan menjadi Whistle Blower

12 08 2011

Oleh Antonius Natan, Th.M. , Fasilitator Umum Jaringan Dunia Kerja

Sistem membentuk Budaya

Tahun ini masyarakat Indonesia terus menerus dikejutkan sejumlah masalah akbar yang terkait dengan moral dan karakter, Laporan Investigasi Tempo misalnya mengangkat praktek korupsi di tubuh organisasi persepakbolaan, rekening “Gendut” oknum penegak hukum, Percaloan anggaran di DPR, kasus Nazaruddin yang kemungkinan melibatkan banyak petinggi Partai, ada lagi KKN dalam kuota daging sapi impor oleh partai yang mengangkat tema bersih, belum lagi sejumlah kejahatan yang terlewatkan, namun masih beruntung karena sudah terbuka dan diketahui publik, asal mereka masih dalam status pejabat tinggi negara atau pejabat tinggi parpol atau yang dekat dengan penguasa, ditambah “semangat kebersamaan” diantara sesama “penjahat” tentunya hukum tidaklah mampu menjamahnya, KPK yang merupakan harapan seakan-akan menjadi kerdil dan tak berguna, kita tidak mengetahui “kebenaran sejati” apakah investigasi diatas hanya lelucon atau fitnah kita juga tidak mengetahuinya semuanya karena sistem yang ada membentuk budaya baru bagi bangsa ini, “sesama koruptor dilarang saling mengganggu” biarkan yang kecil kecil dibasmi, umumkan ke-rakyat maling ayam dihukum penjara, pelanggar lalu lintas ditahan, maling karena kelaparan dihukum mati oleh massa, yang lakukan kejahatan besar disebut “the untouchable” munbgkin juga sampai tiba saatnya TUHAN-lah yang akan turun tangan “menyentuh”.

Coba lihat apakah diantara pejabat tinggi negara atau pejabat tinggi parpol adakah anak-anak TUHAN didalamnya ?, sudahkah mereka menjadi terang dan garam ? Rasul Paulus menulis dalam 2 Timotius 3: 17 Dengan demikian tiap- tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. Maka kita percaya Alkitab adalah kebenaran sejati dan yakin manusia tersebut memiliki kemampuan untuk berbuat baik, tetapi jika ada seorang Kristen melakukan tindakan merugikan orang lain kita bisa menyakini manusia tersebut sedang memakai topeng anak-anak TUHAN, wajah aslinya tentunya beda, bisa-bisa telah berubah menjadi “setan alias bapa Pembohong”.

Berarti Sistem sangat kuat mempengaruhi sehingga membentuk budaya, sehingga “manusia kepunyaan Allah” dapat menjelma melawan Sang Penciptanya, Perlu solusi merubah Sistem dan merubah budaya yang semakin “merugikan” saat ini Indonesia semakin “maju” diperingkat atas Negara terkorup di dunia, Sistim yang ada membentuk manusia-manusia Kristen lupa diri dan kondisi seprti ini ditulis oleh Rasul Paulus dalam 2 Timotius 3:1-5 Ketahuilah bahwa pada hari- hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!.

Sistem dan Whistle Blower

Melihat Alkitab sudah mencatat seperti ayat diatas, apakah berarti kita tidak bisa berbuat sesuatu agar terjadi transformasi ? mungkin pemeluk agama lain memiliki persfektif yang berbeda tetapi jika kita melihat kenyataan Radikalisasi telah mengancam kehidupan politik atau stabilitas politik seperti aksi terorisme atau juga tindakan atau gagasan yang berseberangan dengan keingin pemerintah, ide penerapan hukum Syariah terjadi karena ketidak puasan terhadap sistem yang berlaku saat ini, pemerintah gundah, ini sebagai akibat kegagalan pemerintah menerapkan nilai-nilai Pancasila.

Radikalisasi sesungguhnya sangat diperlukan, jika kita melihat sejarah Indonesia, ketika kaum pergerakan proklamasi berbicara tentang lahirnya Negara baru dijaman pemerintahan kolonialis Belanda, Negara baru tersebut adalah Indonesia, perlawanan dilakukan secara radikal, Bung karno dalam pidato “Indonesia Menggugat” mengatakan,”Kami adalah nasionalis revolusioner, nasionalis yang radikal, nasionalis kepala banteng! Kami punya bahasa adalah bahasa yang keluar dari kalbu yang berkobar-kobar dengan semangat nasional, berkobar-kobar dengan rasa kecewa atas celaka dan sengsara rakyat”

Sekarang inipun rasanya kita masih berada dibawah penjajahan, tentu dalam bentuk yang berbeda misalnya menurut BPS tahun ini ada 6,8% tingkat pengangguran terbuka. Dari mereka yang bekerja total 119,4 juta angkatan kerja ada sebanyak 55,1 juta orang yang masih berpendidikan sekolah dasar kebawah, jumlah yang sangat besar dan Indonesia sudah merdeka lebih dari 65 tahun. Dapat dipastikan pendidikan dasar di Indonesia belum mampu memasukkan “Life Skill” dalam kurikulumnya, “Life Skill adalah modal dasar untuk memiliki kemampuan bertahan hidup. Sekali lagi SISTEM dalam bidang pendidikan kita gagal.

Wakil Ketum Bid. Perdagangan dan Distribusi dan Logistik Kadin mengatakan bahwa 65 % pasokan pangan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat diperoleh dengan cara impor, produk seperti beras daging bahkan garam. Adi Sasono, Mantan Menteri Koperasi mengatakan bahwa “pemerintah kurang tepat dalam mengelola kekayaan sumber daya alam, itu karena sumber migas dan tambang dikelola asing. Masyarakat tak menikmati kekayaan yang terkandung dalam perut bumi Indonesia.” Kita melihat SISTEM pertanian, perdagangan, pengelolaan hutan dan tambang gagal mengawal kemerdekaan yang menuju kesejahteraan rakyat.

Secerca harapan muncul tatkala Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh mencanangkan pendidikan karakter pada peringatan hari pendidikan nasional 2 Mei 2011, pendidikan karakter yang dimaksud oleh Kemdiknas harus diawali dengan kejujuran, kembali lagi SISTEM pendidikan yang jujur untuk mengajarkan kejujuran ternyata baru dicanangkan tahun ini, maka tidak heran tatkala seorang bocah menjadi “whistle blower” bagi komunitasnya dihujat ramai-ramai bahkan oleh pendidiknya sendiri.

Saatnya kita sebagai manusia Kristus berani mengambil peran sebagai “Whistle blower” dan melakukan tindakan radikal merubah karakter bangsa ini menjadi karakter yang takut akan TUHAN, ingat kita diperlengkapi segala perbuatan baik, ayat ini berlaku bagi kita. Mari buat efek domino dari “Whistle blower”, buat menjadi semakin radikal sehingga dari RT, RW, Kelurahan, kecamatan hingga Istana Negara tidak ada satu manusia yang berani jadi copet apalagi merampok uang Negara yang sesungguhnya uang rakyat, Luncurkan Gerakan “Malu mengunakan pakaian jika berasal dari uang haram”. Malu memiliki rumah jika berasal dari uang haram”, “Malu berbicara didepan umum jika bohong”, “Malu jika tampil seperti negarawan, karena memang bukan”

Mari kita muridkan bangsa ini dengan Takut akan TUHAN. Ambil peranan Imam dan Raja dalam perjalanan hidup ini.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: