Kebangkitan Kristus vs Kebangkitan Nasional

12 08 2011

Oleh Antonius Natan, Th.M. , Fasilitator Umum Jaringan Dunia Kerja

Film “?” yang disutradarai Hanung Bramantyo menjadi polemik yang cukup panjang dan berkali kali media Televisi mengangkat topik ini, patut disimak sebagian besar masyarakat melihat film ini sebagai cermin untuk membawa perubahan dan pembaruan, tetapi sebagian lagi mengutuk film ini dengan keras. Yang jelas kekerasan yang terjadi dengan mengatas namakan suatu agama adalah kejahatan, Presiden SBY pernah mengatakan :”Jaga kerukunan antarumat beragama. Jika ada kelompok atau organisasi resmi yang selama ini terus melakukan aksi kekerasan yang tak hanya meresahkan masyarakat luas, tetapi nyata-nyata banyak menimbulkan korban, penegak hukum agar mencarikan jalan yang sah atau legal, jika perlu dilakukan pembubaran atau pelarangan,”  Apakah janji Presiden bisa kita tagih ? perlukah kita bergerak menghimpun massa menuntut janji tersebut direalisasi ?. janji tersebut diucapkan didepan insan pers tepat pada Hari Pers nasional ke-65 di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Menteri dalam Negeri Gamawan Fauzi menambahkan, organisasi masyarakat yang terbukti melakukan kekerasan harus dibubarkan. Namun, tentu harus ada fakta dan bukti, baru bisa diambil tindakan. “yang punya fakta itu petugas di lapangan,” pernyataan Presiden dan menteri sudah sangat gamblang tetapi sampai saat ini belum ada organisasi yang dibubarkan, seorang teman secara berkelakar mengatakan, “Siapa sebenarnya yang diberi instruksi oleh Presiden SBY ?”

Bukti nyata Gereja dirusak, dibakar dan penganiayaan umat Kristen sudah menjadi fakta, dan pelakunya sangat jelas karena Polisi sudah menangkap bahkan di adili, karena yang punya fakta “petugas lapangan” tentu petugas diatasnya tidak memilikinya, apakah orang-orang Kristen marah dan mau melakukan teror atau balas dendam atau demo karena perilaku ketidak adilan ? jawaban pasti tidak !. kenapa tidak ? karena kita sudah BANGKIT ! Yesus Kristus yang bangkit dari kematian diatas kayu salib memberikan amanah “kasihilah musuhmu” sangat sedehana dan kita melakukan hukum yang utama dan terutama tersebut “mengasihi dan titik” semangat kebangkitan Kristus tercermin dari perilaku atau akhlak yang saleh bukan berarti orang Kristen menjadi penakut dan tidak radikal, mari kita lihat dampak dari kebangkitan Yesus Kristus terhadap Petrus, Dalam Kisah Rasul 4:19-22, bagaimana Petrus berubah menjadi murid Yesus yang radikal, pemberani. Dalam Ayat 19, dengan lantang ia memberikan suara yang keras dan tegas bahwa ia dan para rasul-rasul yang lain harus lebih taat kepada Tuhan dari pada manusia. Kalimat ini tercetus ketika para iman-iman dan ahli taurat melarang Petrus dan Yohanes memberitakan nama Yesus yang telah bangkit dari kematian.

Kebangkitan Yesus Kristus disertai Yesus hadir ditengah murid-muridnya juga membawa dampak yang luar biasa. Dalam Injil Yohanes 21:1-14; 15-18, disana dicatat bagaimana Yesus yang bangkit dari kematian itu, memberikan tanggung jawab kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba. Kalimat ini memberikan arti bahwa Kekristenan memiliki tanggung jawab melayani, semakin radikal seorang kristen semakin baik akhlak dan semakin menunjukkan kasih, semakin cinta Indonesia dan sebagai nasionalis sejati

Merujuk paragraf diatas. Sesungguhnya Orang Kristen memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam membangun bangsa dan negara, kita diberi mandat untuk mengembalakan, kita memiliki pengaruh dalam komunitas memberikan pencerahan dan membawa atmosfir yang damai. Beberapa waktu lalu kita dikejutkan aksi teror dan bom bunuh diri dan bangkitnya gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang katanya sudah memiliki pengikut hingga 16 ribu dari berbagai kalangan, belum surut beritanya, muncul berita luar biasa dengan tewasnya Osama Bin Laden otak penghancuran menara kembar WTC di Amerika dan kemudian muncul polemik mengenai etika penguburannya di dasar laut yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

kematian Osama Bin Laden dikhawatirkan membangkitkan martir martir baru di seluruh dunia termasuk di Indonesia, ideologi yang ditanamkan kepada pengikutnya tidak akan berakhir begitu saja, melainkan akan terjadi perlombaan mati sahid untuk membalas tewasnya sang guru, ancaman ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menilai perlu undang-undang anti terorisme lebih tajam yang memberikan kewenangan aparat menangkap pihak yang dicurigai sebagai kelompok teroris, “Kalau menunggu bom meledak dulu baru bisa menangkap, bisa meledak negara ini,” kata Ketua Umum PB NU, KH Said Agil Siroj

Kenapa kaum radikal banyak peminatnya? Drama kemelaratan yang terjadi di indonesia dianggap sebuah mimpi buruk yang diakibatkan oleh tidak pekanya pemimpin bangsa terhadap nasib rakyatnya. Kesenjangan sosial yang terjadi semakin memperjelas bahwa pemerintah hanya berpihak kepada kelompok dan kepentingan, bayangkan bangsa ini berdiri karena sejumlah veteran perang berjuang hingga titik darah penghabisan, tanpa pamrih ! kepentingannya hanya satu agar tidak di jajah, tetapi saat ini belenggu-belenggu mulai dipasangkan kepada anak cucu bahkan mungkin cicit sang veteran perang, kita lihat data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan 60,5 % pemuda usia 16 tahun hingga 20 tahun di seluruh provinsi di Indonesia tidak memiliki pekerjaan tetap atau pengangguran, mungkin angkanya akan lebih besar jika pengukuran hingga usia 30 tahun. Pengangguran ditambah terbatasnya sumber daya bagi kegiatan pemuda berdampak kepada kemerosotan karakter, pergaulan bebas, narkoba dan masuk kedalam kelompok radikal seperti NII. Gereja kembali dituntut tanggung jawabnya dalam membangun, Gereja harus bangkit membentuk satuan tugas bangkitkan program Pramuka, kepeloporan, kewirausahaan, kepemimpinan dan bentuk bentuk alternatif lain sehingga belenggu kebodohann, kemiskinan dan sakit penyakit dilepaskan. Gereja mendarat dalam masyarakat, berbaur dalam pembangunan, sama seperti Yesus Bangkit membawa perubahan, gerejapun mengikuti teladan tersebut membawa transformasi bagi komunitas dan bangsa, membangkitkan rasa nasionalisme.

Saatnya kita bangkitkan semangat nasionalisme, semangat membangun bangsa, melawan ketidak adilan dan korupsi, Tokoh Lintas Agama menilai saat ini kebijakan pemerintah mengenai ekonomi sudah melenceng dari konstitusi dan kehilangan roh proklamasi, sehingga terjadi pertentangan mendalam antara neokapitalisme dan Pancasila, bahkan menurut KH Salahuddin Wahid 27 % Undang-undang bertentangan dengan UUD 1945, bisa dipastikan tentunya hasil pembangunan juga akan bergeser dari cita-cita proklamasi. Zaman Orde baru Prof. Sumitro pernah mengatakan bahwa kebocoran APBN hingga 30 %, saat ini kita tidak tahu berapa angka sebenarnya, tetapi yang jelas peringkat negara terkorupsi semakin meningkat, artinya Indonesia belum mengalami penurunan dalam hal korupsi, dan jiwa nasionalis pemimpin bangsa, pengusaha dan masyarakat mungkin juga rohaniawan perlu dipertanyakan

Indonesia dengan pondasi Bhinneka Tunggal Ika merupakan pilihan pendiri republik sejak kita di sebut sebagai bangsa kekuatan pondasi Indonesia lainnya adalah Pancasila. Roh ke-Indonesiaan adalah berjiwakan Ketuhanan yang satu dalam keberagaman yang menjunjung tinggi toleransi, saling menghargai, bangsa yang beradab, dengan menerapkan keadilan, mampu bermusyawarah, bersatu dengan kepemimpinan yang melayani. Indonesia bukanlah agama dengan berbagai konflik keyakinan yang kuat, Indonesia adalah sebuah cita-cita dan harapan tentang dunia yang berketuhanan, berperikemanusiaan dan berkeadilan.

Tidak ada yang melarang mendirikan negara Islam atau negara Kristen, syaratnya hanya satu jika disepakati bersama seluruh warga bangsa, bukan paksaan atau ancaman, karena agama manapun tidak tidak mengajarkan pemaksaan ideologi, agama mengajarkan kebaikan, mengangkat harkat dan martabat manusia, agama dilahirkan untuk manusia, dan sepenuhnya diamalkan untuk manusia. Menjadi Indonesia adalah takdir kita, dan pendiri bangsa memilih Pancasila sebagai asasnya dan demokrasi sebagai sistem pemerintahannya. Menjadi Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu adalah pilihan sekaligus panggilan, yang seharusnya sama-sama menegakkan kemanusiaan untuk menuju keadilan yang beradab di tanah air Indonesia. Eksistensi suatu agama tidak ditentukan berdirinya sebuah negara agama, melainkan eksistensi agama justru ditentukan oleh pemeluk agama itu sendiri dalam merealisasikan ajaran agamanya ditunjukkan dalam akhlak. Sehingga terjadi kebangkitan Indonesia. Kekristenan melihat Kebangkitan Kristus Yesus merupakan terobosan yang memberikan perubahan bagi dunia, membawa damai dan sukacita, panggilan pengembalaan merupakan gerakan membangkitan rasa nasionalisme. Mari kita bangkitkan gerakan cinta tanah air, Tuhan mengasihi bangsa Indonesia, selamatkan indonesia.



Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: