Roh Penghibur dan Roh Bangsa Indonesia

12 08 2011

Oleh: Antonius Natan, Th.M. Fasilitator Umum Jaringan Dunia Kerja

Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu jika Aku pergi.Sebab Jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu (Yohanes 16:7).

Kekristenan mengalami terobosan saat “Penghibur” yang dimaksudkan Roh Kudus turun, perubahan radikal terjadi, perluasan wilayah tak terbendung, sendi kehidupan masyarakat berpusatkan kepada ajaran Kekristenan yang hingga kini dirasakan dalam bidang hukum, ekonomi, manajemen dan berbagai disiplin ilmu serta diadopsi keberbagai budaya di dunia. Injil mendarat dalam kehidupan rumah tangga, gereja hingga pemerintahan. Bagaimana posisi Roh Penghibur di bumi Indonesia ?

Indonesia baru merdeka 65 tahun tetapi jika dibandingkan Negara-negara yang merdeka pada tahun berdekatan, sepertinya dirasakan perbedaan yang sangat mencolok, lihat hasil survey mengenai social politik Indonesia secara umum menyimpulkan bahwa 13 tahun reformasi tidak membawa dampak mencolok di Indonesia, bahkan tidak jarang masyarakat berpendapat keadaan pada masa Orde baru dipandang lebih baik ketimbang masa reformasi ini. Namun saat ini tingkat kemiskinan orang miskin makin dirasakan dan ketidak berdayaan semakin terlihat semakin jelas pula, sebaliknya kekayaan orang-orang kaya semakin bertambah, dengan meningkatnya asset yang di taruh di Negara Singapura, hasil kajian Prof Jeffrey Winters dari Northwestern University, USA, mengutip data dari Capgemini and Merrill Lynch menunjukkan, pada tahun 2004 saat SBY terpilih menjadi presiden untuk pertama kalinya, ada sekitar 34.000 orang Indonesia yang memiliki asset paling sedikit USD 1 Juta yang ditaruh diluar negeri, kekayaan rata-rata mereka tahun 2010 sebesar USD 4.1 juta dengan jumlah meningkat menjadi 43.000 orang, dengan jumlah kumulatif kekayaan yang ditaruh di Singapura USD 93 Milyar, jumlah WNI tersebut mewakili kurang dari 1 % penduduk Indonesia, dibanding era Soeharto, terkadang pemimpin negara di era Reformasi kurang tegas, orang-orang kaya semakin “liar” karena tidak ada pemimpin yang mampu menguasai, sangat mungkin orang kaya “liar” dapat membayar para politisi pada masa kampanye, membeli para penegak hukum, dan lebih luar biasa dapat menentukan pejabat mana yang patut diangkat atau dipilih untuk menduduki jabatan public. Kondisi diatas adalah potret buram bangsa, tingkah laku orang kaya “liar”, politisi dan birokrat seakan tidak memiliki budaya malu, dan tidak segan-segan melakukan korupsi atau tindak kejahatan lainnya seakan membentuk budaya baru.

Nilai nilai agama sepertinya tidak mempengaruhi, rasanya menjadi orang bodoh jika mengikuti perintah Kitab Suci, rasanya tidak gaul jika tidak mengikuti ke-edanan. Memang sepertinya ajaran agama menjadi hal kuno, terlebih jika kita focus melihat dari sisi Kekristenan, seakan kitab suci menjadi kurang relevan dalam kebudayaan koruptif saat ini, benarkah ?. Sering kita terlibat dalam debat mengenai tata cara, pemahaman dan persepsi perihal Roh Kudus sehingga melupakan esensi, Manusia Kristen abad modern saat ini perlu  menerima Roh Kudus dalam hidup dan menapaki kehidupan bersama Roh Kudus, Alkitab mencatat bahwa ada 3 Alasan kenaikan Yesus ke sorga. Pertama, kenaikanNya ke sorga untuk menggenapi janjiNya akan turunnya Roh Kudus (Yoh 16:7). Kedua, Roh Kudus memberikan kemampuan untuk mengerjakan pekerjaan Rohani (Kisah 2:41-47). Ketiga, Roh Kudus memberikan tanda-tanda heran yang ajaib (Kisah 2:43-45).


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: