KAUM DUNIA KERJA, PENJALA MANUSIA & MURIDKAN BANGSA INDONESIA

6 01 2012

oleh Antonius Natan,Th.M, Fasilitator Umum Jaringan Dunia Kerja

Yesus berkata kepada mereka:”Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” Matius 4: 19.

Yesus Kristus lahir dan kelak dewasa mengajak kita menjadi penjala manusia, apakah respons kita ? ajakan ini tidak meminta kekayaan, kekuasaan maupun nyawa. Ajakan ini menawarkan suatu pekerjaan lain selain pekerjaan utama, atau sebaliknya pekerjaan utama sebagai penjala manusia, pekerjaan sampingan mencari nafkah agar tidak meminta-minta. Jikalau kita menangkap ikan dengan jala, maka perlu pengetahuan khusus mengenai tempat, kapan dan situasi yang pas saat melemparkan jala, ikan tidak perlu diberitahu, cukup menjeratnya. Tetapi menjala manusia berbeda sifat pekerjaannya. Manusia tidak bisa dijala begitu saja, melainkan kiasan ini diimplementasikan dalam bentuk memberikan keteladanan bagi rekan kerja, komunitas, kelompok, dari keteladanan tersebut orang lain dapat melihat dan merasakan perbedaan. Daya tarik Kekristenan adalah keteladanan, dan panggilan untuk percaya kepada Tuhan Yesus sesungguhnya bukan karena penjelasan yang masuk akal dan diterima nalar, melainkan anugerah,

Oleh karenanya bukan karena kita pintar menjala dengan berkhotbah atau menjelaskan tentang ketuhanan secara baik maka banyak orang menjadi Kristen, tidaklah sesederhana itu, melainkan kasih karunia kepada suku bangsa yang bersangkutan. Tuhan hanya mengajak kita bermitra, sesungguhnya panggilan ini merupakan kehormatan besar. Banyak orang hanya bersedia, tetapi tidak bertindak, sering kali orang mengatakan bahwa dia cinta tanah air Indonesia, dan ingin berbuat bagi bangsa, memiliki kerinduan untuk bersatu, bahu-membahu mengerjakan panggilan suci, tetapi selalu tersandera karena tugas dan tanggung jawab pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Akhirnya hanya “kata” yang keluar tetapi tindakan tidak terjadi. Sesungguhnya Tuhan ingin kita bekerja bersama-sama dengan DIA. Dan Dialah yang mengerjakannya di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Filipi 2:13)

Ajakan menjadi penjala manusia tidak ditujukan kepada Pendeta, Gembala atau Hamba Tuhan semata, melainkan ditujukan kepada semua orang yang percaya kepadaNya, setiap orang percaya memiliki mandat memuridkan. Apa profesi kita saat ini ? seorang pengusaha, pedagang, professional, karyawan pemerintah atau karyawan swasta, dengan jabatan tinggi menengah atau rendah, semua Kaum Dunia Kerja atau Kaum Awam memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk menjala manusia dan memuridkan. Bahkan Kaum Dunia Kerja harus bisa memuridkan bangsa. Sepertinya mustahil, tetapi ini adalah kenyataan yang harus dijalankan.

Ingat Yesus Kristus lahir tidak sekedar menjadi bayi kudus, kita merayakan Natal tidak sekedar mendengar harapan baru tetapi kenyataan yang baru, DIA Mesias, DIA Juru Selamat. DIA Pemimpin, DIA Teladan. DIA Berkuasa atas Bumi dan Sorga. Tulisan ini mengajak kita melakukan instropeksi diri sambil melakukan kontemplasi, Berapa lama lagi DIA harus menunggu Anda ? telah berapa kali Anda merayakan Natal ? dan sudahkah Anda memuridkan bangsa Indonesia ? berbagai alasan untuk menolak, tetapi berbagai alasan juga memastikan kita harus bertindak. Kita telah diberi kunci Kerajaan Sorga, kita perlu menutup Gerbang korupsi, Gerbang kejahatan, Gerbang prostitusi, Gerbang Narkoba, Gerbang HIV/AIDS, Gerbang kemelaratan, Gerbang kebodohan dan banyak gerbang-gerbang lainnya. Kita harus berani mengambil alih kepemimpinan. Kepemimpinan yang sanggup memberikan harapan bagi orang tertindas bahkan menghantarnya dalam kemerdekaan, kepemimpinan yang mampu mengembangkan emotional intelligent dan spiritual intelligent. Indonesia saat ini merupakan satu dari 37 negara yang terjebak dalam kebutuhan pangan, sebagian besar kebutuhan pangan bangsa agraris ini di impor dari berbagai Negara, Indonesia telah terperangkap dalam perbudakan modern, masihkah kita tidak menyadarinya ?

Persoalan perbudakan modern yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini adalah akibat dari suatu kepemimpinan dalam pemerintahan, ketidak berpihakkan dan ketidak pedulian birokrat hingga Indonesia mendapat sebutan Negara terkorup, dan Presiden secara resmi dalam pidato mengatakan Negara dirampok, yang paling heran kita belum bisa menemukan perampok intelektualnya, yang diburu hanya pesuruh dan orang suruhan, kalaupun sudah nyata perampoknya sudah dituduhkan, yang hebatnya bisa pula tuduhan itu seolah olah fitnah dan tidak diketahui lagi ujung pangkalnya, ternyata hukum pun telah mati suri. Kita belum menemukan harapan.

Robert Fulghum, penulis buku-buku laris kelahiran Texas (1973), menulis buku All I Really Need to Know I Learned in Kindergarten, terjual 17 juta eksemplar tahun 1986. Dalam buku itu, ia menjelaskan dan memberikan kiat-kiat untuk bagaimana harus hidup, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana menjadi pribadi yang berkarakter dan arif, dan ia mengakui, semua sikap dan nilai-nilai hidup utama itu hanya bisa diperoleh di taman kanak-kanak (TK): berbagi, jujur, berdoa, menghormati teman, tidak menyakiti, kembalikan segala sesuatu pada tempatnya, bersihkan sendiri sampahmu, jangan ambil yang bukan punya kamu, minta maaf pada orang yang kamu sakiti, cuci tangan sebelum makan, selalu waspada, dst. Itu adalah dasar-dasar bagi kemampuan klasifikasi, fungsi, sebab akibat, itu adalah fondasi bagi sebuah karakter yang kelak berani berkata tidak. Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang tidak mati nurani, tidak mati perasaan, tidak buta penglihatan, tidak tuli pendengaran. Kita butuh pemimpin yang seperti dikatakan Peter F Drucker, pakar manajemen kelahiran Austria, demikian, “Manajemen adalah melakukan segala sesuatu dengan benar; kepemimpinan adalah melakukan hal-hal benar.” Artinya kegagalan adalah akibat dari kesalahan klasifikasi dan kesalahan pelaksanaan fungsi-fungsi, sehingga segala sesuatu menjadi salah urus.

Contoh salah urus adalah Deklarasi Presiden Papua dan Perdana Menteri (PM) dalam kongres Rakyat Papua, Negara lewat aparatnya tidak membiarkan hal ini terjadi, seharusnya izin kongres untuk membahas hak-hak dasar masyarakat Papua. Carut marut di Papua tidak lepas dari kehadiran PT Freeport pada tahun 1967, melalui sebuah pertemuan di Jenewa Swiss, rejim Soeharto menggelar karpet merah untuk menyambut masuknya kapitalis asing menjajah Indonesia. Apa yang dilakukan bertentangan dengan semangat revolusi 1945, pasca Konferensi Meja Bundar (KMB) sebuah gerakan nasionalisasi terjadi pada tahun 1957, dimana 90% perusahaan perkebunan beralih ketangan Indonesia, 60% perdagangan luar negeri beralih ke Indonesia, dan sekitar 240 pabrik, bank, pertambangan, perkapalan juga jatuh ketangan Indonesia. Pemerintah saat itu menerbitkan Undang-undang Nomor 86 Tahun1958, tentang Nasionalisasi Perusahaan Belanda, selain itu diterbitkan UU Penanaman Modal yang sangat membatasi modal asing. Kondisi berbalik tatkala Rejim Soeharto mengesahkan UU penanaman modal asing baru, yang sangat memberi kesempatan kepada kapital asing untuk menguras kekayaan alam Indonesia, salah satunya PT Freeport, perusahaan milik imperialis AS yang menguasai produksi emas dan tembaga dunia. Sedikitnya sudah menghasilkan 7.3 Juta ton tembaga dan 724,7 juta ton emas atau setara ratusan ribu juta dolar Amerika. Tetapi pembangunan Papua jauh dari harapan, malah Kantong Kristen ini mulai berubah dengan bertambahnya jumlah pendatang dari luar tanah Papua. Rakyat Papua menghadapi perbudakan modern. Mari kita urus Papua dengan jujur, benar dan tulus.

Kaum Dunia kerja sebagai karyawan, professional atau pengusaha dapat melakukan mujizat dan perkara ajaib karena Yesus sebagai pusat karya. Mari menjala Manusia, memuridkan Bangsa Indonesia, lepaskan Indonesia dari perbudakan modern, jadilah pemimpin yang berkarakter Kristus.

Kaum Dunia Kerja mari berperan sebagai Imam dan Raja dimanapun kita ditempatkan, bersama Tuhan Yesus Kristus kita dapat melakukan perkara yang lebih besar.

Selamat Natal dan Selamat Tahun Baru menyongsong Tahun Spiritualitas 2012.

(www.marketplace.or.id )


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: