Salib dan Aktualisasi Dalam Era Kekinian

13 03 2012

Oleh Antonius Natan, Fasilitator Umum Jaringan Dunia Kerja

Gejolak Timur tengah membawa kekhawatiran banyak Negara, Eropa belum keluar dari kemelut ekonomi yang melilit, pembantaian manusia di Libya menggambarkan manusia sudah melupakan kodratnya sebagai manusia yang humanis, ketegaan seorang Presiden demi kekuasaan rela mengorbankan nyawa manusia, tidak ada rasa takut, tidak ada belas kasihan yang ada hanya mempertahankan diri, Rakyat merasa senang dengan bantuan NATO dan komando Amerika yang membombandir pusat pertahanan Khadafi, semua bersorak karena kehancuran tempat tinggal sang Kolonel, tetapi perlu disadari bahwa tujuan setiap faksi ternyata berbeda-beda, ada yang menginginkan setelah menang perang, Libya harus menjadi Negara demokrasi, tetapi ada yang ingin Libya menjadi Negara berazaskan Syariah Islam, lain lagi keinginan Amerika dan sekutunya, betapa rumitnya.
Untunglah Yesus Kristus rela disalib, dan ulah Petrus yang menghunus pedang mendapat tentangan dari Yesus sendiri, bahkan Yesus membawa mukjizat kepada tentara yang telinganya putus, sehingga pulih seperti sedia kala, ternyata perlawanan yang sesungguhnya bukan melawan darah dan daging , melainkan penguasa diudara. Bisa dibayangkan jika Yesus pada jamannya bertindak keras dengan membunuh tentara Romawi dan menggantung orang Farisi serta Ahli Taurat. Tentu arogansi dan kesombongan akan kita wariskan, dan orang akan mengenal Kristen identik dengan senjata dan kekerasan. Untungnya lagi Kristen tidak identik dengan senjata apalagi dengan kekerasan, Yesus sebagai pembawa damai justru dibuktikan tatkala DIA berada di via delorosa, kekerasan, kekejaman, sumpah serapa, ludah dan olok-olok dibalas dengan diam dan damai-damai saja, memang sakit tapi itulah ongkos perjalanan spiritual Yesus menuju Sorga. Aktualisasi Kristus dalam dunia modern justru mendapat tantangan sekaligus solusi dari berbagai kerumitan, tetapi disadari atau tidak justru sebagian orang Kristen tidak menggunakan jurus pamungkas Yesus Kristus, terkadang orang Kristen melebihi TUHANnya sendiri, beberapa orang Kristen justru menjadi pelaku kekerasan dan suka menggunakan senjata, Anehnya kekerasan juga bisa dilihat dari cara berdoa, gaya dan cara menyuruh TUHAN mungkin juga ada yang mengancam. Orang berdoa seharusnya meminta pencerahan agar TUHAN berkenan dan memberikan pertolongan, tetapi sering ditemukan orang Kristen berdoa seperti dia adalah TUHAN itu sendiri, herannya TUHAN kita memang baik dan pengampun, walau anakNYA kurang ajar, terkadang TUHAN masih berbagi dan memberikan belas kasihan, tapi sampai kapan keadaan ini dapat berjalan ?. Ada sebagian orang Kristen berlaku seperti pengemis, memulai awal hari hingga akhir hari meminta-minta, dari meminta kesehatan, kekayaan, jabatan, pengaruh, hingga masalah pribadinya yang kurang disukai, minta TUHAN merubah orang lain dan banyak lagi, seperti gaya debt collector.
Dari gonjang ganjing di belahan timur tengah, kita melihat bagian dunia lain yang diamuk oleh alam, Gempa tektonik, Tsunami yang melanda Jepang serta masalah reactor Nuklir yan mencemari beberapa wilayah. Betapa kondisi tersebut merubah kebiasaan bangsa Jepang, dari situasi masyarakat modern dan canggih, harus memulai kembali dengan gaya hidup sederhana, tetapi ada yang tidak berubah dari bangsa Jepang, mereka tetap memiliki etika, kesabaran dan daya tahan. Di bagian bumi lain dengan situasi yang sama bisa terjadi penjarahan, manusia berubah menjadi srigala pemangsa, penguasa memanfaatkan situasi dengan korupsi, pengusaha berlomba mengais rejeki. Atmosfir berbeda walaupun Injil belum dikenal luas, nama Yesus Kristus belum popular dikalangan masyarakat penganut Shinto, tentu kita harus belajar, apa yang menjadi ketahanan etika moral bangsa Jepang ?. Saat ini Salib tidak popular di Jepang, sampai batas ini masyarakat masih mampu bertahan, sampai kapan ?. Salib dan Yesus Kristus menunggu saatnya tiba, manusia tetap butuh Sang Pencipta, Manusia butuh TUHAN yang mampu memberikan jalan dan damai. Berarti saat ini ada panggilan agar kita bisa berbagi kasih dan injil di Jepang.

Kehebohan dunia lain tidak kalah serunya di negeri sendiri, dimulai dari fenomena ulat bulu yang muncul dimana-mana, mirip-mirip tulah pada jaman Nabi Musa, untungnya ini bukan tulah tetapi hama yang tidak cepat diantisipasi pertumbuhannya sehingga seperti mewabah. Ada lagi Dewan Revolusi Islam, yang akhirnya dibantah kiri kanan, dan jika dipelajari konsepnyapun tidak jelas, akar masalahnya adalah persoalan Akhmadiyah yang belum tuntas, baru kita menarik nafas adalagi persoalan yang hakiki masalah kebangsaaan yakni tatkala ketua MUI KH A. Cholil Ridwan Mengharamkan umat Islam untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan, tentu ini menjadi perdebatan, tetapi jika terkait dengan tafsir teologis masalah ini menjadi sangat peka untuk didiskusikan. Yang jelas Fatwa Saudi Arabia yang bernaung dalam Lembaga Tetap Pengkajian dan Riset Fatwa pada Desember 2003 yang mengharamkan bagi seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan, tentu ada argument-argumen teologis yang mengkukuhkan maksud tersebut. Debat dan argument tidak saja di wilayah agama melainkan juga terjadi di Gedung DPR RI, membangun dan tidak bukanlah masalah rakyat, tetapi masalah bagi anggota DPR, karena merekalah yang menggunakan fasilitas tersebut, jikalau ada pasti sangat bermanfaat, jika tidak berarti gunakan yang ada saja. Kesediaan menggunakan yang ada bukan berarti DPR lemah atau memaksakan kehendak bukan berarti DPR kuat, kita perlu diingatkan konsep Kota Megapolitan Jakarta-Bogor-Puncak-Cianjur, ada baiknya Gedung DPR dibangun di Jonggol saja. Sekalian pemerataan pembangunan dan membuat kemacetan Jakarta berkurang. Bayangkan jika ajaran Kristus terkait dengan semua kehebohan di negeri sendiri, nilai-nilai harmonis dan damai tercermin di tengah masyarakat Indonesia tentu kita menikmati kejayaan negeri ini dengan nyaman. Debat dan argument dijawab dengan kasih yang etika bermoral, pemaksaan dijawab dengan rasa damai dan syukur, Anda tentu mengatakan nonsense, tentu tidak mungkin ! tetapi saya menawarkan suatu argumentasi, bahwa lilin kecil sanggup menerangkan kegelapan, lilin harus berkorban dengan api yang melelehkannya, tentu kita saat ini ditantang untuk menjadi lilin kecil tersebut. Kesanggupan satu orang jika ditambah dengan kesanggupan orang lainnya tentu akan menjadi fenomena budaya. Injil dan salib menjadi actual ditengah bangsa Indonesia tatkala kita menjadi bagian yang mencerahkan, kita bukan menjadi TUHAN, tetapi mari kita menjadi Anak-anak TUHAN. Inilah tujuan Paskah, Injil membumi dan Salib menjadi bagian kehidupan masyarakat luas.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: